MENEMUKAN KONSEP KEINDAHAN PUISI ANGKATAN 45

Desember 31, 2009 elfkusumawaw

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemilihan Puisi dan Pendekatannya

Puisi merupakan bentuk karya sastra yang tergolong paling tua. Namun, sampai sekarang tidak ada definisi yang mutlak mengenai puisi. Menurut Altenbernd, puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of experience in material language). Carlyle berkata, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita. Wordworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataaan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Sejak kelahirannya, puisi memang sudah menunjukkan ciri-ciri khas seperti yang kita kenal sekarang. Meskipun puisi telah mengalami perkembangan dan perubahan tahun demi tahun bentuk karya sastra puisi memang dikonsep oleh pencipta atau penyairnya sebagai puisi dan bukan bentuk prosa yang kemudian dipuisikan. Namun secara garis besar puisi adalah karya sastra yang memiliki unsur-unsur keindahan (estetis).

Dalam sejarah terkuaknya karya sastra terdapat periode yang mengalami perkembangan yang cukup pesat bagi dunia kepenyairan. Dalam hal ini kami memilih puisi angkatan ’45 karena pada masa itu ada suatu pembaharuan atau perubahan dari angkatan sebelumnya. Hal tersebut terlihat pada periode 1945-1953 yang sering kali disebut sebagai angkatan ’45. Dalam angkatan ’45 terjadi pembaharuan puisi yang bersifat menyeluruh. Bukan hanya pembaharuan bentuk puisi, namun juga faktor kejiwaan puisi dan tema atau amanat yang dikemukakan, dan hal ini disebut sebagai pembaharuan secara menyeluruh, sementara itu puisi angkatan ’45 memiliki struktur yang lebih bebas dari puisi angkatan sebelumnya yang dalam hal ini, hal itu disebut sebagai kekhasan dari puisi angkatan ’45 atau karakteristik yang menonjol pada puisi angkatan ‘45. Oleh karena itu, kami mencoba menemukan konsep estetis yang ada dalam puisi angkatan ‘45 hingga pada akhirnya konsep tersebut dapat menimbulkan pemaknaan pada puisi tersebut. Hal ini tersebut menjadi daya tarik tersendiri ketika yang menjadi objek ialah puisi angktan ‘45.

Menurut Junus dalam Pengantar Teori Sastra(Waluyo, 2008:183), pendekatan objektif merupakan pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan pada karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada bila tidak ada karya sastra, oleh sebab itu karya sastra menjadi sesuatu yang inti. Dalam pendekatan ini, karya sastra dipandang sebagai tanda, lepas dari fungsi referensial atau mimetiknya. Karya sastra menjadi tanda yang otonom, yang hubungannya dengan kenyataan tersebut bersifat tidak langsung. Oleh karena itu langkah pertama adalah meneliti karya sastra yang kompleks dan multidimensional yang setiap aspek dan unsur berkaitan dengan aspek dan unsur yang lain yang semuanya mendaaptkan makna penuhnya dan fungsinya daalm totalitas karya itu. Mengingat tujuan awal ialah ingin menemukan konsep estetis pada sebuah karya sastra yaitu puisi, maka dalan hal ini menggunakan pendekatan estetis yang berkonsentrasi pada nilai estetis karya sastra yang diterapkan pada puisi angkatan ’45.

1.2 Tujuan (berkaitan dengan judul)

Pada dasarnya tujuan dalam mengapresisi suatu karya sastra dengan menggunakan pendekatan estetik adalah untuk menemukan unsur-unsur keindahan sehingga menciptakan pemaknaan pada karya sastra tersebut. Puisi adalah karya sastra yang unik. Karya sastra ini menggunakan media bahasa seminimalis mungkin namun menghasilkan pemaknaan yang mendalam. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa puisi merupakan rekaman dan intepretasi pengalaman manusia yang penting manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan dan dipastikan bahwa dalam setiap puisi memiliki konsep estetis yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kami ingin menemukan konsep estetis(keindahan), khususnya pada karya sastra puisi angkatan ‘45 yang terkenal sebagai karya ekspresionisme dengan menggunakan pendekatan estetis.

1.3 Prosedur kerja apresiasi dengan pendekatan estetik

Pendekatan estetik merupakan suatu pendekatan yang dimaksudkan untuk mengungkap keindahan dari suatu karya sastra. Pengertian Pendekatan Estetik. Para ahli sastra mengungkapkan berbagai pengertian mengenai pendekatan estetik sebagai berikut. Menurut Endraswara(2003:69)kajian estetik hanya memfokuskan pada aspek yang menyebabkan karya sastra menjadi indah dan menarik. Menurut Wellek & Warren (Budianta: 1995) Pendekatan Estetik adalah kajian sastra yang memfokuskan bidang kajiannya pada unsur intrinsik yang menarik dan menyenangkan. Asumsinya bahwa karya sastra dipandang sebagai suatu karya seni yang memiliki unsur-unsur keindahan. Dari beberapa pengertian pendekatan Estetik, dapat disimpulkan bahwa pendekatan Estetik adalah pendekatan yang mengkaji unsur-unsur intrinsik karya sastra yang menyebabkan keindahan dan menarik. Keindahan(estetik) dalam karya sastra begitu penting keberadaannya, kerena pada hakikatnya karya sastra merupakan karya imajinatif yang menggunakan bahasa sebagai media dan memiliki nilai estetik yang dominan. Suatu estetika karya sastra dapat kita lihat dari struktur bahasa yang digunakan, bentuknya, penyusunan alur, konflik-konflik, humor, dan sebagainya. Sama seperti yang dikemukakan oleh Shanon Ahmad, dalam puisi terdapat pemikiran, ide, atau emosi, bentuk, dan kesan. Dimungkinkan bahwa melalui unsur-unsur tersebut sebuah karya sastra dapat diidentifikasi konsep estetis-nya.

Prosedur kerja untuk mengapresiasi puisi dalam makalah ini dengan menggunakan pendekatan esetik ialah dengan menemukan puisi yang tergabung dalam puisi angkatan 45’ dan membacanya berulang-ulang. Selanjutnya, menetapkan unit analisis, misalnya berupa bunyi, kata, frasa, kalimat, bait, dan sebagainya. Hubungan pemakaian aliterasi, asonansi, rima dan variasi bunyi yang digunakan untuk mencapai efek estetika. Analisis diksi. Analisis kalimat yang ditekankan pada variasi pemakaian kalimat. Mengkaji makna gaya bahasa. Dan yang terakhir menyimpulkan hasil analisis puisi dengan mengidentifikasi unsur-unsur yang turut membangun konsep estetis(keindahan) dalam pusi tersebut sehingga membentuk satu keutuhan(unity) puisi tersebut. Kemudian mengidentifikasi unsur-unsur yang secara merata tergarap dengan baik. Maksudnya menemukan unsur yang menonjol dalam pembangunan konsep estetis pada puisi angkatan ‘45 atau unsur yang mendaapt tekanan yang tepat (right emphasis) sehingga mendorong unsur-unsur lainnya untuk membentuk keselarasan (harmony) dan membentuk kesatuan makna yang utuh.

BAB II

PEMBAHASAN

Di bagian pendahuluan, telah dikemukakan mengenai puisi. Secara garis besar, puisi adalah karya sastra yang memiliki unsur-unsur estetis (keindahan). Sebagai salah satu buah seni sastra, puisi dapat dikaji dari berbagai macam aspek. Mengingat puisi adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana kepuitisan, puisi dapat dikaji melalui struktur dan unsur-unsurnya. Selanjutnya, bagaimana cara menemukan konsep estetis (keindahan) pada sebuah puisi?

Seringkali puisi dianggap sebagai karya seni yang puitis. Pada dasarnya, kata puitis sudah mengandung nilai estetis (keindahan) khusus untuk puisi. Jika puisi dapat dikaji melalui struktur dan unsur-unsurnya, unsur apakah yang menyatakan konsep estetis (keindahan) sebuah puisi. Unsur-unsur yang dapat menggambarkan unsur estetis dapat ditemukan dalam jenis-jenis gaya bahasa. Menurut Slametmuljana dan Simanjuntak (dalam makalah Rachmat Djoko Pradopo), pengertian gaya bahasa sebagai berikut.

Gaya bahasa

merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan-perasaan dalam hati pengarang yang dengan sengaja, atau tidak sengaja menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca.gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, baik efek prektis untuk menerik perhatian dalam percakapan sehari-hari maupun efek estetis dalam karya sastra. Gaya bahasa berhubungan dengan unsur-unsur: bunyi, kata, dan kalimat. Gaya bunyi berupa perulangan bunyi, kiasan bunyi, dan orkestrasi. Perulangan bunyi dikenal dengan sajak atau rima. Aliterasi merupakan perulangan bunyi konsonan dalam satu baris. Asonansi berupa perulangan bunyi vokal dalam satu baris. Kiasan bunyi berupa onomatope, simbolik bunyi (lambang rasa), dan metafora bunyi. Kombinasi bunyi yang berulang menimbulkan irama: mentrum dan ritme. Kombinasi bunyi yang berirama itu menimbulkan bunyi musik dalam puisi atau orkestrasi. Orkestrasi bunyi yang merdu disebut eufoni dankobinasi bunyi yamg tidak merdu disebut kakafoni. Gaya kata meliputi gaya etimologi (asal-usul kata, misalnya prokem, jargon, atau silang), gaya morfologi (penghilangan imbuhan, pembalikan kata [metatesis], dan pembentukan kata, dan gaya semantik (pemilihan kata [diksi], bahasa kiasan, dan sarana retorika yang menekankan kata. Gaya kalimat adalah penggunaan satu kalimatuntuk mendapatkan efek tertentu, misalnya inversi. Gaya kalimat tanya, gaya kalimat perintah, dan gaya kalimat elips. Selanjtnya sarana retoroka yang berupa satu kalimat seperti hiperbola.Ukuran estetis(keindahan) sebuah puisi bersifat relatif(subjektif). Hal ini didukung oleh Riffaterre dalam Pengkajian Puisi(Pradopo, 1987:3) yang menyatakan bahwa puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetis. Hal tersebut dapat dilihat dari setiap angkatan yang diwakili oleh sekelompok sastrawan yang sebagian besar berbeda dan menghasilkan karya sastra yang memiliki karakteristik dengan penikmat sastra yang berbeda pula. Oleh karena itu, setiap orang tidak akan pernah memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep estetis. Ditambah lagi dengan konsep bahwa untuk dapat mengetahui letak estetis sebuah puisi, seseorang harus melakukan proses pemahaman dan penghayatan demi melahirkan pengalaman batin. Hal tersebut terlihat dari perasaan dan emotif yang tentunya akan berbeda dalam diri setiap orang.

Menurut Altenbernd dalam Pengkajian Puisi (Pradopo, 1987:13), dalam mencapai kepuitisan(keindahan), seorang penyair menggunakan berbagai cara secara bersamaan untuk mendapatkan jaringan efek puisi yang banyak. Kepuitisan dapat dicapai dengan cara, misalnya melalui bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi; persajakan, asonansi, aliterasi, lambang, diksi(pemilihan kata), sarana retorika, gaya bahasa, dan sebagainya. Jadi, untuk mengetahui konsep estetis(keindahan) yang ada pada puisi angkatan ‘45 melalui pendekatan estetis(keindahan) dengan menemukan beberapa unsur yang mampu mencerminkan konsep estetis(keindahan) dalam beberapa puisi yang menjadi masterpiece pada angkatan 45’.

Karakteristik Puisi ‘45

Karakteristik Gaya Bahasa

Diksi (Pemilihan Kata).

Kalau sampai waktuku

‘ku tak mau seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Disamping itu, dalam puisi Amir Hamzah dalam buku nyanyian sunyi, banyak ditemukan bahasa-bahasa yang masih tabu.

Aku laksamana dari lautan menghentam malam hari

Tiada takut pada pitam,

Imajeri

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Chairil Anwar (Kebebasan)

Orang ngomong, anjing gonggong

Taman punya kita

Tak lebar luas, kecil saja

Satu tak kehilangan lain dalamnya

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumput tak berbangding primadani

Halus lembut dipijak kaki

Bahasa Kias.Sinekdoke totem pro toto

Simile merupakan kiasan yang menyatakan suatu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata perbandingan seperti: bagaikan, seperti, seumpama dan sebagainya.

Sarana retorika

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sarkasme

 Karakteristik Bentuk

Perulangan bunyi.Sajak atau rimaAlitrasiAsonansi

Kalau sampai waktuku

‘ku tak mau seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Selanjutnya, Onomatope merupakan kata-kata dari tiruan bunyi atau suara di alam.RitmeBaris

Itu tubuh

Mengucur darah

Mengucur darah

Rubuh

Patah

Mendampar tanya: Aku salah?

Bentuk bebas

. atau larik adalah jumlah baris dalam tiap bait. merupakan pengulangan tetap dari aksen. adalah perulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris-baris puisi yang menimbulkan irama tertentu (Wiyatmi,2005:59), misalnya: adalah perulangan konsonan dan vokal awal pada tiap kata yang sebaris atau berlainan baris sehingga mengesankan suatu irama yang indah. (prasadja,1981:44). merupakan unsur penting dalam puisi untuk menambah keindahan dan menggugah rasa keindahan pada puisi (Prasadja, 1981:49). Rima adalah perulangan bunyi yang sama dalam puisi, yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi (http://puisimilikhasza.blogspot.com/).Karakteristik Isi

Tema

Bukan kematian yang benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerimah segala tiba

Tak kuketahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertahtah

Puisi diatas bertemakan kematian karena dapat diketahui bahwa penyair ingin menyampaikan rasa dukanya untuk seorang neneknya.

Nada

Amanat

 Analisis Nilai Estetis Pada Puisi Angkatan ’45

AKU

Chairil Anwar

adalah pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisi tersebut, dan untuk mengetahuinya dapat ditelaah setelah memahami tema, rasa, dan nada puisi. dan Suasana puisi. Nada dan suasana puisi adalah sikap penyair kepada pembaca yang mempengaruhi keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi. puisi adalah ide dasar suatu puisi.adalah gaya bahasa sindiran yang terkesan kasar serta langsung menusuk perasaan. Repetisi adalah gaya bahasa penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kali untuk menegaskan arti. merupakan sarana penekanan makna baik dalam kata maupun dalam kalimat, seperti: Hiperbola adalah gaya bahasa perbandingan melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa/ tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pengertiannya, untuk menyangatkan arti, contoh:adalah bahasa kias yang membandingkan sebagaian untuk mewakili keseluruhan. Bahasa kias adalah bahasa yang digunakan untuk membandingkan suatu benda dengan sesuatu yang lain. Ada beberapa bahasa kias antara lain personifikasi, metafora, simile, dan sinekdoke. Sinekdoke totem pro parte adalah bahasa kias yang membandingkan keseluruhan untuk mewakili sebagaian. Selain itu juga terdapat Imajeri visual (citra penglihatan) yang terdapat pada puisi Chairil Anwar yang berjudul Taman, sebagai berikut.

merupakan suatu angan-angan atau gambaran yang terbentuk dalam pemikiran pembaca karena adanya persinggungan indra tubuh pembaca dengan suatu benda secara abstrak sebab penghayatan pembaca terhadap puisi. Pada sebuah puisi dapat diidentifikasi Imajeri auditif (citra pendengaran), seperti yang terdapat pada puisi Toto Sudarto yang berjudul Pahlawan sebagai berikut.Pada karya sastra angkatan ’45 disi yang dipakai secara padat dan sangat intens. Hal tersebut terlihat dari kata-kata yang digunakan penuh vitalitas dan tidak melankolik lagi. Pernyataan tersebut terlihat pada karya sastra sebagai berikut.Kalau sampai waktuku

‘ku tak mau seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulan yang terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sajak Aku karya Chairil Anwar, memiliki karakteristi bahasa, bentuk dan isi. Karakteistik bahasa puisi tersebut ditunjukan melalui Diksi. Diksi ialah pemilihan kata dalam sajak. Menurut Barfield, kata-kata yang disusun dan dipilih secara demikian rupa sehingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imagi estetik, maka hasilnya adalah diksi puitis. Jadi, untuk mendapatkan kepuitisan atau untuk mendapat nilai estetis digunakan diksi. Imagi estetik dalam puisi “Aku” timbul dari diksi /aku/’chairil’, /waktuku/ ‘mati/meninggal’, /kau/ ‘kekasih’, /merayu/ ‘menghalangi kepergian (bersedih)’, /sedu sedan/ ’ratapan kematian’, /binatang jalang/ ‘seorang yang bebas, tidak terikat aturan’, /terbuang/ ‘tidak di anggap/akui lagi’, /meradang menerjang/’berang, tetap pada pendirian awal’ , /Luka dan bisa/’ segala sakit dan penderitaan’, /berlari/’diatasi, ditahan’.

Adanya diksi yang memiliki arti yang bukan hanya ada dalam kata-kata tersebut dapat dikatakan bahwa puisi tersebut memiliki makna konotasi. Menurut Altenbern, konotasi menambah denotasi(kata itu) dengan menunjukan sikap-sikap dan nilai-nilai, dengan memberi daging(penyempurnaan) tulang-tulang arti yang telanjang dengan perasaan atau akal. Kata konkret yang digunakan penyair berkaitan erat dengan pengimajian. Ketika membaca seseorang akan dibawa untuk membayangkan kejadian yang ada, sesuatu yang dapat dilihat oleh mata. Hal ini terwujud dalam baris ketujuh dan delapan. Selain itu juga terdapat imaji taktil. Jika membaca puisi tersebut, pembaca akan turut merasakan hal yang dialami oelh penyair dam turut dalam keadaan yang digambarkan /luka dan bisa kubawa berlari/, /berlari/, /hingga hilang pedih perih/

Dapat diiketahui bahwa Chairil juga menyisipkan sarana retorika. Dalam sajak tersebut, sarana retorika yang dominan ialah hiperbola dan pararelisme. Sarana retorika merupakan sarana yang mempergunakan banyak titik untuk mengganti perasaan yang tidak terungkap, antara lain: larik /biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/. Larik-larik tersebut menunjukan suatu peristiwa/keadaan yang dilebih-lebihkan(hiperbola) dan pengulangan kata secara berurutan kebawah(pararelisme) /berlari/ yang diperkirakan dimaksudkan untuk menunjukan arti yang mendalam yang melekat pada kata tersebut kepada setiap pembaca.

Unsur kepuitisan pada sajak “Aku” juga terdapat pada bahasa kiasan(figuratif language). Bahasa kiasan(figuratif language) menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup dan terutama menimbulkan kejelasan angan. Dalam sajak ini, bahasa kiasan yang digunakan ialah metafora yang terdapat pada larik /aku adalah binatang jalang/ ’Chairil menganggap dirinya adalah seorang yang lepas, bebas seperti binatang jalang’. Metafora merupakan bahasa kiasan seperti perbandingan, namun tidak menggunakan bahasa pembanding. Menurut Backer dalam Pengkajian Puisi(Pradopo, 1987:66), metafora melihat sesuatu dengan perantaraan benda lain. Kejelasan angan atau gambaran yang jelas dalam sajak “Aku” juga dilahirkan dalam rangkaian kata-kata yang menimbulkan suasana yang khusus untuk membuat (lebih) hidup. Hal ini untuk menciptakan gambaran dalam pikiran dan penginderaan dan juga menarik perhatian. Gambaran-gambaran tersebut disebut citraan(imageri). Citraan(imagery) yang digunakan dalam sajak Chairil tersebut ialah pencitraan pengelihatan yang terdapat dalam larik /biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/berlari/. Selanjutnya, larik /luka dan bisa kubawa berlari/ selain terdapat pencitraan pengelihatan namun secara implisit juga terdapat pencitraan perasa yang ada dalam rangkaian kata /luka kubawa berlari/ ‘seolah-olah menggambarkan luka akibat peluru yang menembus kulit dibawa dengan berlari’. Hal tersebut memunculkan pencitaraan perasa yang menimbulkan pembaca turut merasakan sakit yang diderita si aku. Melalui konotasi, bahasa kiasan(figuratif language), dan citraan(imagery) yang dipakai dalam sajak tersebut. Perulangan bunyi tampak pada bait pertama /kalau sampai waktuku/, /’ku tak mau seorang ‘kan merayu/, /tidak juga kau/. Oleh karena itu, dari segi karakteristik isi dapat didapatkan bahwa puisi tersebut memiliki tema perjuangan hidup karena dalam puisi tersebut, penyair memberitahu pembaca mengenai sisi kehidupannya, sedangkan nada dan suasana puisi puisi tersebut adalah penuh semangat perjuangan, sehingga mampu memengaruhi pambaca turut marasakan suasana yang ada. Dari semua rangkaian kata dalam puisi tersebut dapat diambil sebuah amanat, yaitu dalam menghadapi sebuah permasalahan harut tetap bertahan, mempertahankan idealisme yang benar walaupun sampai harus mengorbankan hidup.

Unsur dominan yang mampu menunjukan konsep estetis dalam puisi “Aku” adalah diksi. Melalui diksi yang digunakan, dapat diketahui bahwa Chairil mengekspresikan pengalaman jiwanya secara padat dan intens demi mempertimbangkan makna yang akan disampaikan. Kata-kata dalam puisinya berbicara bahwa Chairil berharap jika ia meninggal nanti (waktuku), ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih(merayu) bahkan juga kekasihnya(kau). Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematiannya sebab tidak ada gunanya. Chairil adalah orang yang lepas bebas(binatang jalan), yang terbuang dari kelompoknya. Ia menginginkan kemerdekaan, meniadakan aturan-aturan yang mengikat, meskipun hingga peluru menembus kulitnya. Chairil akan tetap berang dan memberontak(meradang menerjang) terhadap aturan-aturan yang mengikat tersaebut. Bahkan hingga menanggungkan segala rasa sakit dan penderitaan(luka dan bisa), Chairil akan tetap menahan dan mengatasi(berlari) hingga rasa sakit tersebut akan hilang dengan sendirinya. Dengan demikian, secara kiasan Chairil menginginkan rangkaian kata-kata yang digunakan menggambarkan semangat, pikiran dan karya-karyanya yang akan hidup selama-lamanya.

Secara estetis puisi karya Chairil Anwar ini memiliki bentuk puisi yang sedikit beda, tidak ada kateraruran yang ada dalam bentukny ata dapat dikatakan berbentuk bebas. Di mana kata-kata dalam baris tersebut hanya diulang-ulang saja. Cara pengarang mengungkapkan perasaannya dengan pilihan kata yang menarik menambah nilai tambah tersendiri bagi puisi ini. Pada bait pertama penggunaan vokal u yang digunakan berulang-ulang dengan objek yang berbeda menarik daya baca pembaca. Apalagi itu ditampilkan di awal bagian puisi.

Penggambaran kekerasan yang dihiperbolis merupakan hal yang langka dan jarang ada. Tetapi pengarang mampu melakukannya dengan menampilkan keindahan dalam setiap pilihan kata dan rangkaian kalimatnya. Lihat saja pada bait pertengahan pada puisi ini.

Aku ini binatang jalang

dari kumpulan yang terbuang

biar peluru menembus kulitku

aku tetap meradang menerjang

Pilihan katanya begitu menyenangkan untuk dibaca dan mernunjukkan sebuah rangkaian yang menarik dan menambah nilai keindahan tersendiri dalam puisi ini.

Meskipun pengarang sedikit menggunakan kata-kata yang tabu seperti pada bait pertama baris kedua kumpulan yang terbuang, tetapi ungkapan atau pilihan kata itu tidak mengurang nilai keindahannya. Malah mebuat puisi ini semakin menarik dan menyenangkan.

MANTERA

Asrul Sani

Raja dari batu hitam,

Di balik rimba kelam,

Naga malam,

Mari kemari!

Aku laksamana dari lautan menghentam malam hari

Aku panglima dari segala burung rajawali

Aku tutup segala kota, aku sabar segala api

Aku jadikan belantara, jadi hutan mati

Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa

Budak-budak tidur dipangkuan bunda

siapa kenal daku, kan kenal bahagia

Tiada takut pada pitam,

Tiada takut pada kelam

Pitam dan kelam punya aku

Raja dari batu hitam,

Di balik rimba kelam,

Naga malam,

Mari kemari!

Jaga segala gadis berhias diri

Biar mereka pesta dan menari

Meningkah rebana

Aku akan menyanyi,

Engkau berjaga daripada api timbul api

Mereka akan terima cintaku

Siapa bercinta dengan aku

Akan bercinta dengan tiada hari

Raja dari batu hitam,

Di balik rimba kelam,

Naga malam,

Mari kemari,

Mari ke mari,

Mari!

Dalam puisi “mantera” karya Asrul Sani terdapat karakteristik bahasa, bentuk, dan isi . karakteristik bahasa pada puisi ini terletak pada unsur diksinya, hal ini terlihat pada pilihan kata: /raja/’ memiliki imaji estetik ‘seseorang atau sesuatu yang memiliki kekuasaan’. /batu hitam/’ mengacu pada sesuatu yang keras, gelap’/ rimba kelam/’penuh keseraman’/ naga malam/’sosok yang berani’ /aku/ ‘ penujukan pada dirinya’ /lautan/ ‘penggambaran terhadap sesuatu yang lapang’ /burung rajawali/ ‘penunjukan pada sesuatu yang kuat’ . Adanya diksi yang memiliki arti yang bukan hanya ada dalam kata-kata tersebut dapat dikatakan bahwa puisi tersebut memiliki makna konotasi. Unsur kepuitisan pada sajak “Mantera” pada bahasa kiasan (figurative language). Bahasa kiasan(figuratif language) menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup dan terutama menimbulkan kejelasan angan. Dalam sajak ini, bahasa kiasan yang digunakan ialah metafora untuk mengungkapakan keindahan dari pilihan kata. Hal tersebut terlihat pada larik: /aku laksamana dari lautan menghentam malam hari/ aku panglima dari segala burung rajawali/../. Kejelasan angan atau gambaran yang jelas dalam sajak “mantera” juga dilahirkan dalam rangkaian kata-kata yang menimbulkan suasana yang khusus untuk membuat (lebih) hidup. Hal ini untuk menciptakan gambaran dalam pikiran dan penginderaan dan juga menarik perhatian. Gambaran-gambaran tersebut disebut citraan(imageri). Citraan(imagery) yang digunakan dalam sajak Asrul Sani tersebut ialah pencitraan pengelihatan yang terdapat dalam larik: / Raja dari batu hitam/ Di balik rimba kelam/ .

Dari segi unsur isi puisi ini memiliki tema keberanian , yang mana unsur stema tergambarkan pada larik: /Tiada takut pada pitam/ Tiada takut pada kelam /Pitam dan kelam punya aku/ Raja dari batu hitam/ menggambarkan bahwa dia itu sosok yang pemberani dan mampu melindungi kaum yang lemah. Unsur Nada dan Suasana puisi yang terlukiskan pada puisi tersebut adalah suasana seram tapi keseraman suasana tersebut tercairkan oleh kata-kata yang di sampaiakannya. Contoh bentuk pencairan suasana itu terlihat dari bentuk seruan yang diutarakan oleh penyair. Selain itu dalam kaitannya dengan unsur amanat, puisi mengandung amanat bahwa kita tidak perlu takut pada suatu kekuatan apapun, dan sebagai seseorang yang kuat kita harus mampu membantu orang yang lemah dan akaum teraniyaya, yanag amana dalam puisi tersebut digambarkan dengan pilihan kata : / janda-janda/ budak-budak/.

Dari segi unsur bentuk, keindahan puisi tersebut terlihat pada perualangan bunyi yang ditimbulkan dari rima. Melalui unsur rima yang terlihat pada akhir setiap larik yaitu perulangan bunyi /am/ keindahan puisi ini dapat dirasakan, hal ini terlihat pada larik: /raja dari batu hitam/di balik rimba kelam/naga malam/…/ tiada takut pada pitam/ tiada takut pada kelam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsur estetis pada puisi “Mantra” karya Asrul Sani terlihat dari unsur bahasa, bentuk, dan isi. Diksi, gaya bahasa, imajinasi (citraan), tema, amanat, suasana dan perulangan bunyi yang digunakan pada puisi tersebut mampu mewakili makna puisi. Dari penggunaan unsure-unsur terlihat bahwa seorang Asrul Sani ingin menunjukkan pandangan hidupnya yang moralis, hal ini terlihat pada pilihan kata yang digunakan untuk menyusun larik puisi. Selain berpandangan moralis Asrul sani juga bersikap melankolis dalam mengungkapkan estetik mengenai pandangan hidupnya, hal tersebut terlihat pada larik/…/mereka akan terima cintaku/ siapa bercinta dengan aku/ akan bercinta dengan tiada hari/…/.

SURAT KERTAS HIJAU

Sitor Situmorang

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua

Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

Puisi memiliki karakteristik bahasa, bentuk, dan isi. Karakteristik bahasa meliputi diksi, imaji, bahasa kias, dan sarana retorika. Karakteristik bentuk meliputi perulangan bunyi dan verifikasi, sedangkan karakteristik isi meliputi tema puisi, nada dan suasana puisi, perasaan (feeling), dan amanat. Puisi Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang juga memiliki karakteristik bahasa, bentuk, dan isi. Namun tidak semua unsur dalam masing-masing karakterisitik muncul pada puisi ini.

Nilai estetis pada puisi Surat Kertas Hijau timbul dari diksi /kedaraannya/, /hijau muda/, /kemontokan/, /musim bunga/, dan /harum anak dara/. Kata-kata tersebut bersifat feminin. Terdengar lembut dan indah. Diksi yang digunakan memiliki makna konotasi, yaitu /segala kedaraannya tersaji hijau muda/’gadis yang dicintai penyair adalah gadis lugu dan polos’, /segala kemontokan menonjol di kata-kata/’ungkapan cinta dan rindu melalui surat yang dikirimkan si gadis’, /burung pun berpulangan/’penyair pulang dari bepergian’.

Imaji yang terdapat dalam puisi ini adalah imaji visual dan imaji taktil (citra pencium). Imaji visual terdapat pada bait pertama baris kedua yang berbunyi /melayang di lembaran surat musim bunga/, sedangkan imaji taktil terdapat pada bait kedua baris ketiga yang berbunyi /harum anak dara/. Sarana retorika juga dapat ditemukan pada puisi Surat Kertas Hijau berupa repetisi. Kata /mari ,dik…/ diulang pada bait ketiga dan keempat. Perulangan kata /mari, dik…/ dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Sitor mengajak si gadis untuk menikah dengannya dan hidup bersama. Repetisi juga terdapat pada bait ketiga baris kedua, yakni pada kata /semusim/. Perulangan kata /semusim/ dimaksudkan untuk menegaskan bahwa waktu terus berjalan dan tidak mungkin dapat dihentikan.

Nilai estetis puisi ini juga terlihat pada rima. Rima yang terdapat pada puisi ini menggunakan pola a-a-b-b, a-a-a-a, dan a-a-b. Pola a-a-b-b terdapat pada bait pertama sebagai berikut.

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Pola a-a-a-a terdapat pada bait kedua sebagi berikut.

Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua

Pola a-a-b terdapat pada bait ketiga dan keempat sebagai berikut.

Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

Puisi ini memiliki bentuk bebas. Hal ini terlihat dari jumlah baris per baitnya yang tidak sama. Bait pertama dan kedua berjumlah empat baris, sedangkan bait ketiga dan keempat berjumlah tiga baris.

Tema puisi Surat Kertas Hijau adalah tujuan hidup. Penyair yang sering bepergian memutuskan untuk menikah dengan pacarnya karena ia tahu hidup manusia itu tidak abadi. Penyair ingin hidup bersama gadis itu dan tidak ingin pergi jauh lagi. Bait pertama yang berbunyi /segala kedaraannya tersaji hijau muda/melayang di lembaran surat musim bunga/berita dari jauh/sebelum kapal angkat sauh/ memiliki makna gadis yang dicintai penyair adalah gadis lugu dan polos. Hal ini terlihat dari surat yang dikirimkan si gadis kepada penyair sebelum ia pergi. Bait kedua: /segala kemontokan menonjol di kata-kata/menepis dalam kelakar sonder dusta/harum anak dara/mengimbau dari seberang benua/ maknanya adalah surat yang dikirimkan si gadis berisi ungkapan cinta dan rindu karena penyair sedang pergi jauh. Bait ketiga: /mari, Dik, tak lama hidup ini/semusim dan semusim lagi/burung pun berpulangan/ memiliki makna penyair mengajak si gadis menikah karena hidup manusia itu tidak abadi. Penyair tidak ingin membuang waktu. Penyair ingin ketika pulang nanti ada yang menyambutnya sebab meskipun ia sering bepergian, ia tetap membutuhkan satu tempat untuk menetap. Bait keempat: /mari, Dik, kekal bisa semua ini/peluk goreskan di tempat ini/sebelum kapal dirapatkan/ maksudnya adalah penyair yakin bahwa cinta mereka akan abadi. Ia ingin menikahi si gadis dan hidup bersama selamanya.

Penyair mampu membuat pembaca turut merasakan cintanya kepada si gadis dan larut dalam kisah cinta mereka. Ia berpesan bahwa setiap orang pasti ingin menikah dengan orang yang dicintainya dan ingin hidup bersama dengan orang tersebut. Orang yang sering gonta-ganti pacar pun suatu saat pasti akan memilih satu orang yang akan menjadi pendamping hidupnya, begitu juga dengan orang yang sering pergi jauh dan jarang pulang ke rumah pasti tetap membutuhkan satu tempat untuk menetap dan menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang dicintai.

Jadi nilai estetis yang terdapat pada puisi Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang dilihat dari segi karakteristik bahasanya, meliputi diksi, kata konotasi, imaji, dan sarana retorika (repetisi), sedangkan dari segi karakteristik bentuknya, meliputi rima dan bentuknya yang bebas, kemudian dari segi karakteristik isinya, meliputi tema, amanat, serta suasana yang diciptakan penyair.
Maju
Serbu
Serang
Terjang

Chairil Anwar

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasaiPada puisi DIPONEGORO karya Chairil anwar ini juga mengandung karakteristik bahasa, bentuk, isi dan bahasa yang puitis. Karakteristik bahasa pada puisi ini dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata-kata yang bagus, seperti/ Di masa pembangunan ini /, /tuan hidup kembali/, /
Dan bara kagum menjadi api/.
Dalam baris ini penyair mengunakan diksi yang cukup bagus dan cukup sulit untuk di mengerti, hal itu dimaksudkan agar pembaca bisa menerka-nerka apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan , yang memiliki makna denotasi dan konotasi. Dalam puisi DIPONEGORO lebih cenderung untuk menggunakan Imajeri Visual dengan menggambarkannya melalui bahasa atau diksi seperti: Di depan sekali tuan menanti/ Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali/ Pedang di kanan, keris di kiri/ Berselempang semangat yang tak bisa mati/.

Bahasa kias yang terdapat pada puisi ini sebagian besar menggunakan majas personifikasi dan hiperbola. Itu ditandai dengan banyaknya benda yang disamakan dengan manusia, benda-benda tersebut seolah-olah dapat berbuat sesuatu, berpikir dan melakukan kegiatan seperti layaknya manusia dan melebihkan-lebihkan sesuatu yang terkadang tidak masuk akal. Seperti kata-kata berikut /Dan bara kagum menjadi api/. Dan pengunaan majas hiperbola, seperti pada baris berikut /Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali/.

Dalam puisi DIPONEGORO ini Chairil Anwar juga mengunakan gaya bahasa penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kali untuk menegaskan arti (Repetisi), hal itu dapat kita lihat seperti dalam contoh berikut ini:MAJU
MAJU

Bagimu …….Maju

……….

Sedangkan untuk rima yang terdapat pada puisi DIPONEGORO ini penyair mengunakan rima asonansi, yaitu perulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris-baris puisi yang menimbulkan irama tertentu. Hal itu dapat kita lihat dari baris berikut ini:

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
………

Sedangkan dari segi isi sendiri chairil anwar menceritakan tentang pangeran diponegoro yang gagah berani, di sini pangeran diponegoro di gambarkan sebagai tokoh yang sangt berani. Hal itu bias kita lihat dari sajak yang berbunyi: /Di depan sekali tuan menanti/ Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali/. Pada sajak di depan sekali tuan menanti bias diartikan bahwa pangeran diponegoro berada pada barisan paling depan dan sedang menungu anak buahnya. Sedangkan sajak yang berbunyi Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali bias diartikan bahwa pangeran diponegoro tidak gentar ataupun takut meskipun lawanya jauh lebih banyak. Selain itu sajak /MAJU/ Ini barisan tak bergenderang-berpalu/ Kepercayaan tanda menyerbu/ juga mengambarkan kepribadian seorang pangeran diponegoro yang berwibawa. Kata-kata MAJU disini bias diartikan bahwa pageran diponegoro mengintruksikan kepada anak buahnya untuk menyerang. Sedangkan sajak Ini barisan tak bergenderang-berpalu bias di artikan bahwa barisan dari pasukan pangeran diponegoro tidak ada bunyi gendering yang mengiringinya atau tidak ada yang member semangat kepada rombongan pasukan pangeran diponegoro. Dan untuk sajak Kepercayaan tanda menyerbu bisa di artikan bahwa hanya kepercayaan yang membuat mereka berani berperang, dan tentusaja kepercayaan di sini yang di maksud adalah kepercayaan sekelompok perajurit bahwa nantinya pemimpinya akan membawa mereka kepada kemenangan.

BAB III

PENUTUP

Puisi dipandang sebagai karya sastra yang memiliki unsur-unsur estetis. Berdasarkan pengamatan, pemahaman, dan penghayatan yang bersifat subjektif dalam mengidentifikasi puisi berdasarkan tujuan dan prosedur kerja yang telah ditentukan, ditemukan hasil sebagai berikut. Langkah pertama ialah dengan menemukan puisi yang tergabung dalam puisi angkatan 45’ dan membacanya berulang-ulang. Dalam tahap ini ditemukan puisi “Aku” karya Chairil Anwar, “Mantera” karya Asrul Sani, “Surat Kertas Hijau” karya Sitor Situmorang, dan “Diponegoro” karya Chairil Anwar. Semua adalah sastrawan yang diunggulkan dalam angatan ’45 beserta karyanya yang sebagian besar merupakan masterpiece dari setiap penyair. Selanjutnya, mengidentifikasi unsur-unsur yang turut membangun konsep estetis(keindahan) dalam pusi tersebut sehingga membentuk satu keutuhan(unity) puisi tersebut. Dalam keempat pusi tersebut diperoleh unsur-unsur yang diperkirakan mampu menciptakan dan menimbulkan nilai estetis(keindahan), antara lain: diksi, imaji, bahasa kiasan, sarana retorika yang tergabung dalam karakteristik bahasa. Selanjutnya terdapat unsur rima, perulangan bunyi yang tergabung dalam karakteristik bunyi dan makna puisi yang termasuk dalam isi sebuah puisi. Langkah ketiga ialah mengidentifikasi unsur-unsur yang secara merata tergarap dengan baik. Maksudnya menemukan unsur yang menonjol dalam pembangunan konsep estetis pada puisi angkatan ‘45 atau unsur yang mendapat tekanan yang tepat (right emphasis) ialah unsur diksi. Hal tersebut didukung oleh hasil yang didapatkan setelah melakukan pembuktian dan pada kenyataannya terdapat pada semua puisi yang ada. Unsur tersebut (diksi) mendorong unsur-unsur lainnya untuk membentuk keselarasan (harmony) dan akhirnya dapat membentuk kesatuan makna yang utuh yang dari segi makna juga mengandung nilai estetis.

DAFTAR RUJUKAN

http://jalansetapak.wordpress.com/2008/08/09/puisi-puisi-sitor-situmorang/

diakses pada 30 Oktober 2009.Pradopo, Rahmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi: Analisis Starta Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Jogjakarta: Gajahmada University Press.

Rosidi, Ajib. 1986. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT. Grasindo.

Suryadi, linus. 1987. Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern. Jakarta. PT. Gramedia

Waluyo. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta:Erlangga.

Serbu
Ini barisan tak ……..

Entry Filed under: umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Desember 2009
S S R K J S M
    Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: